Dr.Hj. Marissa Haque Ikang Fawzi, SH, MHum, MBA, MH

Dr.Hj. Marissa Haque Ikang Fawzi, SH, MHum, MBA, MH
Dr.Hj. Marissa Haque Ikang Fawzi, SH, MHum, MBA, MH

Ledakan Penduduk dan Lingkungan Hidup Indonesia (dlm Dr.Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, MBA, MH)

Ledakan Penduduk dan Lingkungan Hidup Indonesia (dlm Dr.Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, MBA, MH)
Ledakan Penduduk dan Lingkungan Hidup Indonesia (dlm Dr.Hj. Marissa Haque Fawzi, SH, MHum, MBA, MH)

Lagu "Hanya Satu Kamu": oleh Ikang Fawzi





Janji Setia & Cinta Ikang Fawzi untuk Marissa Haque Kekasihnya, 1985







Marissa Haque Cover di Majalah Environment

Marissa Haque Cover di Majalah Environment
Meneliti Illegal Logging di Prov. Riau, 2006-2009

Respectable IPB, Bogor

Respectable IPB, Bogor
IPB, Bogor, Marissa Haque Fawzi, Program Doktor, 2009

Untukmu Indonesiaku

Untukmu Indonesiaku
Untukmu Indonesiaku, Marissa Haque Fawzi

Kamis, 04 Februari 2010

IPB sekarang telah menjadi World Class University: Marissa Haque

World Class Bogor Agricultural University

Doa ikhlasku untuk IPB yang sekarang telah menjadi World Class University:

Sebagai salah satu mahasiswa pasca yang pernah merasakan keberuntungan mendapatkan kesempatan 'memulung' ilmu di salah satu respectable university Civitas Academica IPB, saya Marissa Grace Haque mengucapkan selamat serta rasa syukur dan bangga oleh karena keberhasilannya mengangkat 'derajat' dari tempat yang dulunya semata diperuntukkan sebagai bagian dari Universitas Indonesia untuk jurusan Pertanian itu menjadi sebuah entitas pendidikan baru dengan multi-disiplin bidang keilmuan.

Sebagai salah satu institusi pendidikan senior nan terhormat di Indonesia, IPB hari-hari belakangan ini tengahmempertaruhkan nama baiknya. Jokes yang beredar selama ini mengatakan, bahwa dari IPB para alumninya hebat-hebat karena mereka tersaring dari yang paling cerdas pada saat awal diterima sebagai mahasiswa, namun IPB tak lain tak bukan hanya sekedar 'institut pleksibel banget.' Maksudnya adalah bahwa seluruh bidang keilmuan dunia mampu dikerjakan oleh para alumninya yang memiliki standar kemampuan kognisi yang terbukti-teruji diatas rata-rata itu, semisal: (1) perbankan; (2) jusnalistik; (3) kesehatan; (4) industri pendidikan; (5) bahkan banyak yang menjadi Dirjen dibeberapa departemen teknis maupun kementrian negara, menjadi Menteri Negara RI dan bahkan ada yang menjadi Presiden RI. Namun justru mereka yang dirujuk sebagai manusia hebat Indonesia tidak mengerjakan/jarang secara fokus-serius mengerjakan sesuatu didalam bidang yang menjadi core competence mereka sendiri--yaitu bidang pertanian!

Nah sejauh telah banyak menelurkan banyak ahli pada bidangnya masing-masing, kedepannya dengan segala kerendahan hati saya yang bukan siapa-siapa ini hanya ingin melihat IPB mampu menjadi yang terdepan. Bukan lagi sekedar merebut posisi/kedudukan Menteri Pertanian belaka, namun juga signifikansinya terhadap kontribusi dalam bidang sistem pertanian berkelanjutan dari hulu sampai hilir yang berbasis kepada pemerataan pembangunan serta distribusi kesejahteraan bagi keluarga petani.

Dengan harapan bahwa kedepannya, keluarga petani yang merupakan bagian terbesar anak bangsa negeri ini bukan lagi sekedar menjadi pelengkap bidang pertanian atau sekedar menjadi buruh tani belaka. Namun mereka mampu bersuara lantang bahwa mereka mampu bertransformasi menjadi bagian dari terciptanya kedaulatan pangan di Indonesia. Dimana pangan bukan lagi sekedar milik sekelompok kecil elit tertentu yang sekedar bertahan dari gempuran faktor eksternalitas tak terkendali lemabaga donor dunia, yang terdiri dari: (1) IMF; (2) World Bank; dan (3) WTO. Padahal merekalah sesungguhnya para aktor dari faktor eksternalitas tersebut.

Doa ikhlasku, Marissa Grace Haque Fawzi
.

Sabtu, 19 Desember 2009

Bersama Mantan Purek 4 IPB, Bogor, Marissa Haque, Berikan Arahan Tentang Flu Burung


Senin, 14 November 2005 22:04

Kapanlagi.com - Publik Indonesia tentu sudah tak asing dengan sosok Marissa Haque, yang pada tahun '80-an dikenal sebagai bintang film muda yang ikut meramaikan jagat film nasional. Hingga akhirnya ia disunting rocker Ikang Fawzi, ia masih berkutat di dunia perfileman, sampai akhirnya "dipinang" sebuah partai politik dan bergabung di dalamnya sehingga sampai ia menjadi politisi di Senayan (Gedung DPR/MPR) sebagai anggota Komisi VIII DPR RI. Bersama sejawatnya Elviana dari Komisi X DPR-RI yang membidangi Pendidikan, Marissa Haque, belum lama ini bertandang ke Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengunjungi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB, di Kampus IPB Darmaga.

Lantas, apa gerangan yang dilakukan di FKH-IPB? Rupanya, sebagai ibu rumah tangga, Marissa Haque ternyata ikut risau dengan wabah flu burung yang terjadi di Indonesia. Pasalnya, dengan isu flu burung itu, tidak hanya peternak saja yang tertimpa musibah karena ada banyak jutaan unggas, khususnya ayam, yang mati karena serangan penyakit itu.

Namun akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang kemudian takut mengonsumsi ayam, padahal ayam adalah protein hewani yang dibutuhkan untuk kesehatan, dan harganya relatif terjangkau oleh masyarakat kebanyakan. Atas kondisi itulah, ia terpanggil untuk ikut berkampanye agar publik tidak takut makan ayam, terlebih bila ayam tersebut sehat dan tidak berpenyakit.

Karena itu, maksud kunjungannya ke FKH-IPB adalah bertemu ahli dan pakar yang berkompeten untuk membahas masalah flu burung, serta berupaya menyosialisaikan kepada masyarakat agar tidak terlalu berlebihan dalam menanggapinya.

"Makan ayam itu aman, jika dimasak dengan panas 80 derajat Celcius dengan lama minimal 5 menit, bakteri dan segala penyakit termasuk virusnya akan mati. Jangan sampai tidak makan ayam. Kita tahu jika tidak makan daging kita akan menjadi bangsa yang terbelakang mungkin menjadi idiot," katanya kepada para wartawan di Laboratorium Patologi FKH-IPB. Menurut dia, kejadian flu burung yang marak diberitakan oleh media massa perlu diwaspadai, karena mungkin menyangkut pertahanan dan keamanan negara Indonesia.

"Saya sebagai perempuan dan juga ibu rumah tangga serta juga sebagai mahasiswa IPB (saat ini Marissa Haque sedang studi S-3 di IPB-red) melihat hal ini sebagai ancaman bagi pertahanan dan keamanan kita."
"Jadi, pertahanan bukan hanya membeli senjata seperti rudal, peluru dan lain-lain. Namun bisa juga menyangkut pangan, yang hakiki bisa mempengaruhi rumah tangga, di mana di dalamnya terdapat sanak famili dan keluarga, yang berkembang menjadi suatu bangsa," katanya.
Dekan FKH-IPB Dr drh Heru Setijanto pun membenarkan pernyataan itu dengan menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu terlalu khawatir berlebihan tentang flu burung. "Benar, kita perlu waspada, tapi jangan berlebihan, dan mari kita luruskan," katanya.

Menurut dia, terdapatnya wabah flu burung di sana-sini sifatnya sporadis, dan itu menjadi konsekuensi yang harus diterima, karena hal itu sedang menjadi endemis di Indonesia.
"Memang wabah flu burung ini terkadang muncul di suatu daerah, namun demikian dari sisi hewan cukup terkendali. Buktinya dari tahun 2004 hingga 2005 tidak ada lagi wabah yang besar-besaran seperti akhir 2003 dan awal 2004 itu," katanya. (*/bun)

Marissa Haque & Dr. Asep Saefudin bersama Laboratorium Patologi FKH-IPB

Marissa Haque: Jangan Takut Makan Ayam!


http://202.146.5.33/gayahidup/news/0511/15/123900.htm

K0mpas Cyber Media

Kasus flu burung yang melanda negeri ini rupanya tak membuat Marissa Haque, mantan bintang film yang kini jadi anggota dewan itu, gentar. Ia belakangan bahkan getol berkampanye agar masyarakat tak usah takut dengan makan ayam.

Belum lama ini, Marisa Haque bertandang ke Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan mengunjungi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB, di Kampus IPB Darmaga. Di sana ia bertemu para ahli yang berkompeten untuk membahas masalah flu burung.

Modal informasi inilah yang kemudian diharapkan bisa turut menyosialisaikan kepada masyarakat agar tidak terlalu berlebihan dalam menanggapi kasus flu burung.

Diakui Icha, begitu ia akrab disapa, kasus flu burung memberi dampak terhadap banyak pihak. "Lihat saja, karena kasus itu, banyak orang yang ogah makan ayam. Inilah yang kemudian banyak para peternak ayam yang usahanya mulai keteteran," katanya.

Kondisi inilah yang kemudian menggerakkan niat Icha untuk ikut berkampanye agar publik tidak takut makan ayam, terlebih bila ayam tersebut sehat dan tidak berpenyakit. "Jangan khawatir. Masyarakat jangan terlalu berlebihan dalam menanggapinya," ujarnya di Laboratorium Patologi FKH-IPB.

Yang terpenting dalam hal ini, lanjut Icha, masyarakat, terlebih ibu-ibu rumah tangga, agar memasak ayam dalam kondisi yang matang. "Makan ayam itu aman, jika dimasak dengan panas 80 derajat Celcius dengan lama minimal 5 menit, bakteri dan segala penyakit termasuk virusnya akan mati. Jangan sampai tidak makan ayam, loh," kata istri rocker Ikang Fawzi itu berpromosi.

Menurut dia, kejadian flu burung yang marak diberitakan oleh media massa perlu diwaspadai, karena mungkin menyangkut pertahanan dan keamanan negara Indonesia.

"Saya sebagai perempuan dan juga ibu rumah tangga serta juga sebagai mahasiswa IPB (saat ini Marissa Haque sedang studi S-3 di IPB-Red) melihat hal ini sebagai ancaman bagi pertahanan dan keamanan kita," ujar Icha.

"Jadi, pertahanan bukan hanya membeli senjata seperti rudal, peluru dan lain-lain. Namun bisa juga menyangkut pangan, yang hakiki bisa mempengaruhi rumah tangga, di mana di dalamnya terdapat sanak famili dan keluarga, yang berkembang menjadi suatu bangsa," paparnya.

Kamis, 10 Desember 2009

Marissa Haque di Berita Kota: Santap Lalapan & Minum Jamu

Minggu, 01 November 2009 01:33

MEMASAK untuk keluarga merupakan suatu hobi Marissa Grace Haque (47). Meskipun kesibukannya luar biasa, namun sebisa mungkin istri roker Ikang Fawzi ini tetap menyempatkan diri membuat makanan untuk suami dan dua anaknya. Menunya beragam, yang penting tetap memerhatikan gizi dan membuat badan sehat. Selain juga bisa membuat kulit tetap terlihat kencang dan mulus.

BK/EMA
“Setiap hari saya tak lupa makan lalapan. Lalapan sayuran apapun bisa membuat badan menjadi segar juga kulit halus dan bersinar. Ditambah minum jamu setiap pekan. Ini juga saya berlakukan kepada keluarga, suami, dan anak-anak supaya terbiasa,” jelas wanita yang lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur ini.

Untungnya, lanjut dia, menu lalapan juga disukai Ikang dan kedua anaknya yang beranjak remaja. “Anak saya yang pertama sedikit memiliki masalah di wajahnya. Karena itu selalu saya cekokan lalapan dan jamu yang pahit. Lalapan selain bagus untuk kulit juga baik untuk peredaran darah di tubuh. Kulit terlihat halus dan segar. Sekarang sepekan dua kali pasti minum jamu dan ada lalapan. Mulanya memang tidak suka, tapi lama kelamaan akhirnya terbiasa makan lalapan dan jamu. Ikang juga suka lalapan. Ya, istilahnya kalau dilepas dikebun saja hidup, karena suka makan lalapan,” seloroh wanita cantik dan ramah ini.

Disebutkan, kesukaan keluarga menyantap lalapan membuatnya berinisiatif membuat kebun apotik hidup di sekitar rumah. Di antaranya tanaman sambiloto, sirih, kunyit, dan sebagainya. “Apotik hidup itu memang sangat bermanfaat untuk obat. Daun sirih kalau memang biasa makan lalapan itu sangat enak dimakan mentah dan fungsinya juga banyak. Kalau terbiasa minum jamu pahit juga bisa membersihkan darah kotor,” jelas kakak kandung Soraya dan Shahnaz Haque tersebut.

Dituturkan, awal masuk dapur dirinya masih dituntun buku panduan memasak. Setelah semakin sering memakai buku panduan akhirnya Marissa terbiasa memasak beraneka masakan, seperti oseng-oseng tempe, sop daging, ayam, dan sebagainya. “Biasanya anak-anak senang sama oseng-oseng tempe buatan saya. Katanya enak dan gurih. Pokoknya kalau makan oseng-oseng tempe, pada nambah. Padahal menurut saya oseng-oseng tempenya biasa saja nggak ada istimewanya. Tapi Alhamdulillah, suami dan anak-anak pada suka,” pungkasnya. O ema

Sumber: http://www.beritakota.co.id/bk-minggu/kuliner/18438-marissa-haque-santap-lalapan-a-minum-jamu.html

Minggu, 29 November 2009

Ekonomi Syariah bagi Pembangunan HTR: Marissa Haque*

Ekonomi Syariah bagi Pembangunan HTR: Marissa Haque*

Membaca kembali berita di Kompas tertanggal 16 Oktober 2009 lalu, terkait dengan perolehan permodalan terkait dengan keinginan membangun hutan tanaman rakyat membuat hati ini harap-harap cemas. Setelah berbagai kesulitan terkait dengan sumber pembiayaan dalam negeri saat lalu ditambah lagi dengan keberadaan kasus pidana Bank Century sampai-sampai menimbulkan sebuah frasa dan diksi baru yaitu ‘Cicak vs Buaya.’ Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan di Dephut menyatakan telah menyediakan dana Rp 840 Miliar untuk untuk Hutan kredit Tanaman Rakyat in oleh Koperasi atau Kelompok Tani (Gapoktan).

Kepala Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan (P3H) di Dephut Deny Kustiawan pada tanggal 15 Oktober 2009 lalu menerangkan lebih jauh bahwa telah tercatat ada 2 (dua) pemegang izin HTR (Hutan Tanaman Rakyat) yang telah mengajukan diri tertarik pada pinjaman dengan sumber pembiayaan Dephut tersebut, yaitu: (1) Sumatra Utara; dan (2) Maluku Utara.
P3H ini sendiri sekarang tengah mengelola dana Reboisasi sebesar Rp 1,4 Trilyun,-, dimana sebagian dari dana tersebut digunakan untuk kredit pembangunan HTR, dan sebagian lagi sebesar Rp 560 Milyar,- untuk HTR (hutan tanaman industri.) Teknis pengajuannya adalah dengan mengajukan kredit tersebut kepada Bupati diwilayah kompetensi kerjanya masing-masing. Dengan teknis sebagai berikut: (1) Bupati menerbitkan cadangan kawasan hutan produksi utnuk HTR atas nama kelompok tani ataupun koperasi; selanjutnya (2) Menhut menerbitkan izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu HTR.

Konsep kerja dari sistem pembiayaan ini dibangun berdasarkan prinsip kerja “kemitraan.” Dimana petani/gapoktan boleh menggandeng/digandeng oleh para pihak lain untuk mmbangun HTR tersebut. Roni Syaefulah dari Direktorat Bina Pengembangan Hutan Tanaman, Dephut menerangkan lebih lanjut bahwa dengan swadaya artinya para petani.gapoktan membangun sendiri, dan pola pengembangan dimaksukan bahwa investor membangun HTR lalu menjualnya melalui P3H. kemudian masyarakat mengangsur pembayaran melalui P3H.

Jemput Bola Ekonomi Syariah
MES (Maysarakat Ekonomi Syariah) secara sangat jeli melihat kesempatan terbuka bagi sektor pembiayaan HTR ini sebagai salah satu bidang sosialisasi sistem bagi hasil berbasis ilmu ekonomi Islam dimana sektor ekonominya memiliki underlying asset yang nyata harus dapat memanfaatkan peluang potensi pembiayaan pemangunan HTR tersebut. Menurut Sekjen Asosiasi Ahli Ekonomi Islam Agustianto, pinjamaan dengan pola pembiayaan syariah dimana pemilik modal dan pekerja membagi resiko usaha dukup adil untuk dijalankan didalam bisnis HTR ini. Jadi tunggu apa lagi? Tinggal MES (Masyarakat Ekonomi Syariah) melalui Ketum dan atau Sekjennya dapat pro aktif menjemput bola dengan mengadakan pendekatan kepada para instansi terkait, antara lain: (1) Dephut melalui Menteri Kehutanan; (2) Kemnekop-UKM melalui Menkop-UKM; (3) Bank Indonesia memalui Deputy Pembiayaan Syariah, dan lain sebaginya.

* Marissa Haque Fawzi
Ketua Bidang Sosialisasi MES (Masyarakat Ekonomi Syariah)

Kamis, 15 Oktober 2009

Pesan Bu Dr. Etty Riany pada Marissa Haque: Selamatkan Bumi Dengan Tanganmu

IPB dan Lingkungan Hidup
Hari hari belakangan ini saya merasakan sebuah ‘kemewahan’ luar biasa dan agak ge-er bahwa saya being chosen untuk dapat turut menikmati pendidikan disalah satu kampus terbaik dinegeri ini IPB (Institut Pertanian Bogor). Walaupun disaat SMAN 8 (sekolah unggulan di Jakarta saat itu) saya lulus dari jurusan IPA, namun dengan seribu persen kesadaran penuh saya memilih sebuah fakultas dimana sayapun selalu punya waktu luang untuk shooting film yang menjadi instrumen aktualisasi diri saat itu. Akhirnya pilihan jatuh kepada Fakultas Hukum. Dan sebagai lulusan Fakultas Hukum saya tidak berani bermimpi untuk berdekat-dekatan dengan sebuah universitas yang sangat eksakta semacam IPB ini. Namun, sejarah hidup menetukan lain disaat saya masih duduk sebagai anggota DPR RI melalui suami Ce’ Hetty Koes Endang yang bernama Yusuf Emir Faisal, PhD (DPR RI/Fraksi PKB) dan Prof. Dr. Rokhmin Dahuri (Menteri Kelalutan/PDIP) ditambah dorongan teman sesama kader PDIP asal Jambi Elviana dan Dr. Asep Saefudin, MSc sebagai Purek 4 IPB bidang Pengembangan Usaha saya mencoba ikutan tes masuk program Doktor dan surprisingly lolos pada sekitar tahun 2005.

Ketertarikan saya pada program PSL (Pusat Studi Lingkungan) ini karena memang menyaksikan dengan mata kepala sendiri kehancuran bumi didepan mata namun pemerintah Indonesia sangat naif didalam mengahadapi semua gejala kehancuran alam oleh keserakahan manusia penguasanya. PSL sebagai satu-satunya jurusan yang “multidisiplin” di IPB, juga menyediakan kelas eksekutif bagi orang-orang sibuk yang ingin tetap mengisi kognisinya dengan bidang keilmuan akademik (resmi) namun terhadang kesibukan waktu kerja dan tanggung jawab sosial lainnya. Saya masuk dikelas eksekutif Jumat dan Sabtu di Kampus Baranangsiang, Bogor ini selain karena memang dihari kerja sibuk sebagai anggota DPR RI, juga karena keuangan saya masih sangat lapang disaat itu. Dikelas tempat saya belajar dengan interior manis ber-air condition seperti sekolahku saat di Ohio, Amerika Serikat dulu adalah juga ruang kelas dimana Presiden SBY bersekolah. Sembari bercanda saya dan teman-teman sekelas sering ikutan gantian duduk ditempat Pak SBY dulu duduk dan mengatakan: ” … aaaah… siapa tahu jadi Presiden juga, atau minimal Menteri deeeeh!” tawa kami sekelas berderai bersahut-sahutan. Namun apakah sedemikian mudah lulus dari PSL-IPB? Hmmm… saya belum ingin menjawabnya pada tulisan pertama terkait IPB ini. Karena saya ingin memulainya dengan yang ringan-manis-lucu, sehingga enak untuk disimpan mengkristal didalam memoriku.

Dr. Etty Riani dari IPB
Tidak semua pengajar – para dosen – yang dapat berfungsi sebagai fasilitator. Sebenarnya hal ini terjadi dimanapun juga baik di IPB maupun kampus lain, dalam hal ini saya sangat yakin. Dari sejumlah pengajar yang dekat dihati – karena yang bersangkutan telah dipindah kejurusan lain di IPB karenanya saya ingin mengekspresikan rasa terimakasih saya kepada yang bersangkutan – adalah Ibu Dr. Etty Riani, Msi. Beliau ahli ikan dan air (limbah cair dan lain sebagainya). Rumahnya di Bogor dilokasi antara kampus Baranangsiang dan Darmaga. Orangnya pintar namun sangat bersahaja serta rendah hati sesuai dengan rata-rata karakter dasar para pengajar di IPB – sweet and tender hearted lecturers. Sudah lama saya tidak bertemu dengan Bu Etty – demikian panggilan sayang kami sekelas untuknya. Terakhir jumpa disekitar akhir tahun lalu saat beliau tampil menjadi salah seorang pembicara pada diskusi ilmiah di Universitas Terbuka, Situ Gintung, Ciputat sekitar 5-10 menit dari rumahku di Pelangi Bintaro. Dengan rasa rindu saya menemui Bu Etty, menjemputnya serta mengajaknya makan Soto Betawi didepan rumahku yang terkenal kelezatannya diseantero Bintaro. Saya sempat duduk sebagai peserta tamu diantara para peserta pada seminar tersebut yang mengangkat topik menarik yaitu tentang Energi Alternatif Ramah Lingkungan. Kita semua mengetahui bahwa lingkungan kita sekarang sudah benar-benar terancam dan kelestariannya sudah sangat menganggu sehingga dikhawatirkan tidak mampu mewariskannya untuk anak cucu. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak kebijakan Indonesia belum menunjukkan keberpihakannya terhadap keseimbangan lingkungan hidup – sustainable developments. Padahal masalah kerusakan lingkungan hidup sudah mencapai batas yang sangat mengkhawatirkan. Nah, pada seminar dengan topik Energi Alternatif Ramah Lingkungan itulah Bu Etty tampil sebagai salah seorang pakar mewakili IPB.

Kapasitas Ibu Dr. Ir. Etty Riani saat itu sebagai Sekretris Program Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Pasca Sarjana IPB. Bu Etty hari ini sudah tidak lagi berada di PSL-IPB, isu santer yang masuk ketelinga kami karena adanya internal politicings didalam jurusan ini. Walau sebagian lagi secara normatif formal mengatakan karena kontrak kerja Bu Etty sudah selesai dan tidak diperpanjang oleh Ketua Bidang Studi (bukan Dekan karena PSL bukan sebuah Fakultas). Beberapa mahasiswa adik kelasku mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka merasa sangat kehilangan seorang sekretaris jurusan yang penuh perhatian dan pembimbing disertasi yang dengan hati ikhlas tanpa pamrih menjalani fungsinya. Jauh dilubuk hati yang terdalam saya merasa teramat-sangat-kelewat prihatin, bahwa berpolitik praktis bukan terjadi hanya sekedar berada digedung DPR RI namun juga hadir didalam respectable kampus seperti IPB.

Kenangan mendalamku kepada Bu Etty adalah ketika kami semua didalam kelas selalu diingatkan agar melakukan tindakan penyelamatan bumi melalui tindakan sekecil apapun dan melalui disiplin ilmu apapun. Jadi bukan sekedar si ahli air (hidrolog) atau si ahli tanah (agronom) semata yang memikul tanggung jawab kelestarian lingkungan hidup namun kami-kami dari jurusan hukum dan ilmu sosial kemasyarakatan lainnya juga punya kewajiban memikul tanggung jawabnya. Terkesan seakan sebuah pemaksaan memang, namun dari sana saya merasakan adanya pembelaan dari seorang sekretaris program terhadap pandangan sinis dan ‘sebelah mata’ anak-anak eksakta terhadap kehadiran kami para mahasiswa pasca sarjana kelas Doktor dari jurusan non-eksakta di PSL-IPB. Rupanya Bu Etty sering dipanggil sebagai saksi ahli bidang ANDAL (Analisan Dampak Lingkungan) dan AMDAL (Ananlisa Mengenai Dampak Lingkungan) dibeberapa pengadilan terkait kasus delik pidana lingkungan hidup. Dan selalunya (sebagaian besar) argumen ilmiah dari Bu Etty dan timnya (sebagian besar dari IPB) dikalahkan dipengadilan hanya karena ‘dugaan’ politisasi hukum dari keuangan yang maha kuasa dari yang ‘diduga’ para pelaku aktif mafia peradilan Indonesia. Inilah concern Bu Etty terhadap penegakan hukum pidana lingkungan hidup di Indonesia dimana IPB sebagai salah satu institusi pendidikan ditanah air yang memiliki jurusan lingkungan hidup belum dapat meneriakkan kebenaran Segi Tiga Munasinghe yang berisi keseimbangan dari ekologi-ekonomi-sosial didalam sebuah kerangka pikir sistemik yang holistik serta integrated.Ibu Doktor Etty Riani adalah “IBU” kami di PSL-IPB.

Posisi Ibu Etty dimasa kami sekelas kuliah tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun juga penggantinya hari ini. Dari kelompok saya sekelas ada yang sudah lulus, ada yang dipersulit dosen karena ‘diduga’ melakukan delik pidana pemerasan pendidikan, ada yang mulus proses disertasinya karena memiliki keleluasaan finasial dan posisi dikedirjenan tertentu ditanah air, ada yang masih jalan ditempat tidak maju-maju, dan ada yang sedang bersiap menemui Pak Rektor karena hak azazi manusianya (HAM) tidak dilindungi akibat komersialisasi pendidikan oleh oknum tertentu yang secara nyata besinggungan dengan delik pidana pendidikan bilamana secara internal tidak dicarikan jalan keluarnya, dan lain sebagainya.

Harus diakui memang dunia pendidikan ditanah air masih eksklusif dan belum menjadi tempat bagi setiap orang untuk menuntut ilmu. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada seluruh institusi pendidikan ditanah air, dan tanpa melakukan penyeragaman serta tanpa harus menunjuk nama institusi pendidikan tertentu, kita harus mengakui bahwa mafioso pendidikan di Indonesia memang ada dan mereka eksis serta tersebar dimana-mana! Jadi bagaimana kedepannya kita wajib bersikap didalam menghadapi gaya menejemen institusi pendidikan seperti model ini, wa bil khusus terkait dengan UU BHP (Badan Hukum Pendidikan) yang baru saja diketok-palukan namun mendapat respon negatif disana-sini dari seluruh Indonesia.

Selamatkan bumi dengan tanganmu menurut pesan Bu Etty, bagi saya hari ini juga termasuk pesan bagaimana menyelamatkan dunia pendidikan ditanah air yang berada diatas kulit kerak bumi didalam menejemen negara bernama Republik Indonesia. Semoga IPB menjadi salah satu pionir yang berani mengatakan BERANTAS MAFIA PENDIDIKAN di Indonesia!

Saat Presiden SBY Terpana di IPB: Marissa Haque

Sumber: detiknews.com

Jakarta - Lantunan lagu berjudul "Hening karya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggema di Graha Widya Wisuda Institut Pertanian Bogor (IPB).

Selasa, 04/11/2008 15:29 WIB
Anwar Khumaini - detikNews

Lagu mendayu-dayu tersebut pun sebagai acara pamungkas acara Dies Natalis IPB yang ke-45.Puluhan penyanyi dari paduan suara IPB menyanyikan lagu SBY dengan sangat merdu. Tak kalah dengan Widi AB Three, pelantun lagu tersebut saat pertama kali disuguhkan kepada khalayak.

Sehingga tak heran, jika mata Ibu Ani Yudhoyono berbinar-binar saat menikmati sajian lagu ciptaan suaminya. Sesekali Ibu Ani tampak mengkuti bait demi bait yang dinyanyikan. Senyumnya terus mengembang.
Sementara Presiden SBY tidak begitu bereaksi saat lagu ciptaannya dinyanyikan. Dia malah terdiam kaku tanpa ekspresi. Namun terus memandang para pelantun.Suasana Graha Widya Wisudan pun hening, seperti judul lagu yang sedang dinyanyikan. Semua hadirin seakan-akan menikmati kata demi kata dalam lagu tersebut.

Tepuk tangan menggema dari para hadirin yang hadir dalam Dies Natalis IPB. Tak terkecuali Gebernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang duduk di sebelah Ibu Ani. Dari layar lebar, tampak sesekali Ahmad Heryawan mendiskusikan lagu tersebut dengan Ibu Ani.
Bangga sebagai Alumni IPB
Dalam kesempatan tersebut, Presiden SBY sempat menyatakan kebanggaannya sebagai Alumni IPB. Presiden SBY tercatat sebagai alumni IPB program doktor bidang ekonomi pedesaan. "Semoga nanti kalian (menunjuk para mahasiswa) bisa jadi menteri, atau seperti saya yang berdiri di sini sebagaio alumni IPB," ujar SBY bangga.
SBY menambahkan, para alumni IPB mulai dari para petani dan tukang cangkul di sawah hingga presiden pun ada. "Alumni IPB ada yang terjun di sawah dan ladang, penyanyi, penyair dan seperti saya (jadi presiden) yang banyak pekerjaan rumahnya," pungkasnya. (anw/irw)

Sekilas Presiden SBY
Jakarta - Nama : Susilo Bambang Yudhoyono
Tempat Tanggal Lahir : Pacitan, 9 September 1949
Agama : Islam

Istri : Ny Kristiani Herawati

Anak : (1) Agus Harimurti Yudhoyono; (2) Edie Bhaskoro Yudhoyono

Pendidikan:
(1) Akmil Magelang tahun 1973; (2) S2, Master of Art (MA) dari Management Webster University, AS: (3) S3, Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB)

Karir:
1996 - 1997 Pangdam II Sriwijaya
1997 - 1998 Kasospol ABRI
1999 - 2001 Menteri Pertambangan dan Energi

2001 - 2004 Menko Polkam

2004 - sekarang Presiden RI

Alamat:
Puri Cikeas Indah, Cibubur, Bogor
Begitu masuk level jenderal, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung menarik perhatian pengamat militer. Dia termasuk sedikit di antara jenderal TNI yang memiliki wawasan intelektual melampaui bidang yang ditekuninya. Tak heran, dulu ia kerap digolongkan sebagai jenderal intelektual.

Kecemerlangan wawasan lulusan terbaik Akmil 1973 ini mengantarnya dalam berbagai jabatan penting. Ia pernah menjadi Kasdam Jaya tatkala terjadi peristiwa 27 Juli 1996. Setelah itu, ia promosi menjadi Pangdam II Sriwijaya sampai akhirnya ditarik ke Mabes ABRI sebagai Kasospol dengan pangkat letjen.
Ketika Presiden Gus Dur berkuasa, SBY yang juga menantu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo ini ditawari masuk kabinet sebagai Mentamben. Tawaran tersebut diterima yang di sisi lain, membuatnya terpaksa harus pensiun lebih cepat 5 tahun dari karir militernya.

Kerjasamanya dengan Presiden Gus Dur berlangsung tak lama. Setelah sempat mampir sebagai menkopolkam di tahun 2001, SBY kemudian diberhentikan oleh Gus Dur. Tapi begitu Gus Dur dilengserkan MPR, dan Megawati naik menjadi presiden, SBY kembali ditunjuk menjadi menkopolkam.
Kebersamaan dengan Megawati pun ternyata tak awet. Menjelang akhir masa pemerintahannya, SBY tak dilibatkan dalam beberapa pengambilan kebijakan pemerintahan. Uneg-uneg ini disampaikan kepada pers yang menyebabkan suami Megawati, Taufik Kiemas menyebutnya sebagai jenderal yang kekanak-kanakan. Tak dinyana justru sindiran ini melambungkan simpati publik pada SBY.
Pada pemilu 2004, SBY dengan kendaraan Parta Demokrat yang telah ia persiapkan sejak tahun 2001, SBY maju ke bursa capres bersama Jusuf Kalla (JK). Pasangan ini mendapat dukungan penuh dari PKS dan PBB. SBY-JK pun akhirnya memenangkan pemilihan presiden dalam 2 putaran setelah mengalahkan Megawati-Hasyim Muzadi dalam duel terakhir.

Selama menjadi presiden, banyak deraan menimpa SBY. Pada awal pemerintahannya, ada idiom SBY adalah presiden bencana karena banyaknya bencana alam yang menimpa Indonesia. Setelah itu berlanjut dengan krisis minyak yang memaksanya menaikkan harga premium dan solar. Meski demikian, SBY pun punya catatan sukses. Di masa pemerintahannya lah konflik Aceh terselesaikan, demikian pula dengan komitmen pemberantasan korupsi yang realisasinya jauh lebih bagus ketimbang presiden-presiden sebelumnya. (tbs/tbs)

Yellow Margot

Yellow Margot
Fokus IPB, Biologi dan Sosial, Marissa Haque Fawzi, Program Doktor Lingkungan Hidup, 2009

Dr.Hj. Marissa Haque Ikang Fawzi, Mengamati Alam Meracik Model Sistem Lingkungan untuk Indonesia

Dr.Hj. Marissa Haque Ikang Fawzi, Mengamati Alam Meracik Model Sistem Lingkungan untuk Indonesia
Dr.Hj. Marissa Haque Ikang Fawzi, Mengamati Alam Meracik Model Sistem Lingkungan untuk Indonesia

Modelling Grid of Earth

Modelling Grid of Earth
Modelling Grid of BUMI

Alur Ekologis

Alur Ekologis
Alur Ekologis, PSL, IPB,Marissa Haque

Alur Ekosistem

Alur Ekosistem
Alur Ekosistem

Sempat Mendukung Program Dekan Pasca IPB, Bogor

Sempat Mendukung Program Dekan Pasca IPB, Bogor
Marissa, Haque, Bapak Ismet (Bupati Kab.Tangerang/Pamannya Ikang Fawzi), Dekan Pasca Sarjana IPB, in UMKM Introduction for Mauk in Banten, 2006

Species Dilindungi Toco Toucan

Species Dilindungi Toco Toucan
Marissa Haque, Penggemar Toco Toucan

Catatan Pemekaran Wilayah Indonesia

Catatan Pemekaran Wilayah Indonesia
Politik Indonesia & Laju Kecepatan Kerusakan Lingkungan Hidup